WARNA-WARNI KEHIDUPAN

Desember 20th, 2011 by iriani77

WARNA-WARNI KEHIDUPAN


Menurutku, setiap episode dalam kehidupan anak manusia itu bagaikan pelangi. Penuh warna, yang menyiratkan makna yang berbeda didalamnya. Apa? Kamu tidak setuju?. Tidak apa-apa kalau kamu tidak setuju dengan pendapatku ini.

Tapi, coba kita ingat-ingat kembali, setiap moment yang pernah kita lalui dalam hidup kita. Saat jatuh cinta misalnya, rasanya dunia dan seisinya berubah menjadi merah muda. Saat menulis surat untuk si dia, tanpa disadari kita menulisnya di kertas warna merah muda. Saat mengirimkan kartu ucapan atau menghadiahinya sebuah kado selalu ada nuansa merah muda di dalamnya. Pokoknya semua serba merah muda. Bahkan saat bertemu dengan si dia, atau hanya sekedar membayangkannya saja, wajah kitapun sering merona merah muda. Hayo, ngaku..!?.

Atau, saat kita melalui masa-masa tidak menyenangkan dan menyedihkan. Pernahkah kita melihat orang yang datang kepemakaman dengan berpakaian warna-warna ngejreng selain warna hitam atau putih?. Kalau pun ada aku yakin orang itu tentunya memiliki kepercayaan tingkat tinggi. Berduka, selalu disimbolkan dengan warna hitam. Walaupun aku yakin tidak ada larangan bagi orang yang berduka untuk memakai pakaian dengan warna selain hitam, tapi sepertinya warna hitam mungkin lebih cocok untuk menggambarkan kedukaan, kepedihan dan kehilangan akan seseorang dalam hidupnya. Entahlah…!

Tapi, cinta memang tidak selalu merah muda. Kedukaan pun tidak harus disimbolkan dengan hitam. Kenapa? Karena hidup itu memang penuh warna. Bila cinta harus selalu merah muda, apakah hatimu masih akan tetap berwarna merah muda, saat dia ternyata selingkuh?, saat dia ternyata menyakiti hatimu?, saat dia ternyata berbohong?, saat para suami melakukan KDRT atau diam-diam berpoligami?. Rasanya, hidup tak lagi berwarna merah muda. Mungkin kita akan merasa dunia dan seisinya berubah menjadi merah membara atau hitam kelam.

Jangan!, jangan biarkan hanya warna-warna tertentu saja yang mewarnai perjalanan hidup ini. Kenapa? karena hidup ini memang penuh warna. Apakah kamu akan tetap membiarkan hidupmu dipenuhi dengan lembaran hitam, padahal masih ada waktu dan kesempatan untuk merubahnya menjadi putih bersih. Malah aku ingin mewarnai perjalanan hidupku dengan semua warna, ada merah, kuning, hijau, biru, ungu, jingga, atau abu-abu. Lihatlah….!, pelangi hadir tidak hanya dengan satu warna. Ada berbagai warna disana, dan semua bersatu padu menjadi sebuah lukisan alam yang teramat indah. Semua orang bisa memandangi dan menikmati keanekaragaman warna itu dalam keadaan suka ataupun duka, dalam tumpukan berbagai masalah atau dalam limpahan kebahagian.

Hidup itu memang penuh warna. Tapi, sanggupkah aku memaknai setiap warna-warni dalam setiap perjalan hidupku?. Mampukah aku mengambil pelajaran dalam setiap warna-warni kehidupan ini?. Seharusnya BISA!!.

Hidup itu memang penuh warna. Kebahagian, kesedihan, kemarahan, kehilangan adalah warna-warni kehidupan yang mau tidak mau harus aku juga kamu lalui. Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap. Hidup itu memang penuh warna. Dan kebahagian sesungguhnya adalah saat kita bisa memberi warna untuk orang-orang dan lingkungan disekitar kita.

Hidup itu memang pernuh warna……..

BERSAHABAT DENGAN ALHAMDULILLAH

Desember 3rd, 2011 by iriani77


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Salah satu artikel motivasi diri yang amat berkesan yang pernah saya baca adalah tulisan dari Masrukhul Amri, MBA, yang berjudul ‘Bersahabat dengan Alhamdulillah”. Artikel motivasi diri ini pernah dimuat di Tabloid MQ No. 2 Vol. 6 Juni 2005. Kebetulan dulu saya berlangganan Tabloid MQ, karena saya memang ngefans dengan Da’i kondang AA Gym. Tapi sayang, tabloid MQ ini sepertinya sudah tidak lagi terbit seiring dengan kasus yang menimpa beliau. Beberapa koleksi tabloid MQ ini masih saya simpan dengan baik, sisanya…., entah sudah bertebaran kemana.

Setiap kali selesai membaca tulisan ini, sepertinya saya mendapat amunisi baru untuk menghadapi setiap persoalan hidup yang kadang terasa rumit. Saat ketidak sabaran dan ketidakikhlasan mulai menggerogoti setiap jengkal hati ini, tulisan ini mampu menyejukan hati dan mendinginkan kepala yang panas.

Intinya, selalu bersyukur, bersyukur dan bersyukur atas apapun yang Allah berikan pada kita. Rhido atas takdir yang telah digariskan oleh Allah SWT pada hambanya adalah sebuah prestasi yang luar biasa, bila belum mampu ridho atas ketetapan-Nya, maka bersabarlah atas segala ujian, cobaan, kesenangan, kesulitan, kebahagian dan kesedihan yang selalu hadir dalam kehidupan ini. Itu semua memang bukan hal yang mudah, semua perlu proses dan tentu saja belajar.

Salah satu jalan untuk belajar ini adalah dengan membaca, membaca tulisan-tulisan yang berisi motivasi, juga membaca lingkungan dan semua peristiwa yang kita alami di sekeliling kita. Rasanya tidak salah kalau saya ingin membagi salah satu artikel yang pernah saya baca, insyaAllah bermanfaat khususnya untuk saya sendiri. Selamat membaca.

BERSAHABAT DENGAN ALHAMDULILLAH

Masrukhul Amri, MBA

Salah satu gizi spiritual dalam menghadapi kehidupan adalah bersahabat dengan kata Alhamdulillah yang bermakna “segala puji bagi Allah SWT”. Orang-orang yang bersahabat dengan gizi spiritual ini, insyaAllah hidupnya akan terasa ringan dan bahagia.

Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menitipkan kepadaku seorang suami. Banyak orang yang ingin bersuami namun belum menemukannya. Suami dengan segala keangkuhannya, menyebabkan hamba-Mu ini mampu belajar sabar.

Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menitipkankepadaku seorang istri. Banyak orang yang ingin beristri namun belum menemukannnya. Istri dengan segala kesulitannya untuk dididik, menyebabkan hamba-Mu ini harus banyak belajar ilmu “andragogy” alias pendidikan untuk orang dewasa.

Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menitipkan kepadaku anak. Banyak orang yang ingin punya anak namun belum engkau izinkan dan juga banyak yang belum punya anak karena memang belum ketemu jodoh. Anak dengan segala kesulitannya untuk di nasehati, mengharuskan hamba-Mu ini untuk banyak belajar agar dapat mendidik mereka dengan benar. Kehadiran anak-anak menyebabkan hamba-Mu ini menjadi malu kalau mau bertengkar dengan suami dan istri.

Alhamdulillah ya Allah, Engkau menitipkan kepadaku seorang atasan pemarah dan sering mengungkit-ungkit berbagai masalah. Banyak orang yang tidak punya atasan, bukan karena dirinya atasan tapi karena dirinya menganggur. Karena atasan pemarah hamba-Mu ini berkesempatan untuk mendoakan beliau agar segera sadar bahwa kemarahan akan menghancurkan dirinya sendiri.

Alhamdulillah ya Allah, Engkau menitipkan kepadaku banyak karyawan, yang sebagiannya suka demo minta tuntutan gaji dan kesejahteraan lainnya. Banyak orang yang tidak punya karyawan sudah sebab lima tahun belakangan ini perusahaannya gulung tikar dan bahkan tikarnya pun sampai tidak ada yang digulung, Dengan punya karyawan, semoga hamba-Mu ini bisa menjadi salah satu jalan rezeki bagi banyak orang.

Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menitipkan orang-orang disekelilingku. Sebagian ada yang menyakitiku, walaupun hamba-Mu ini telah berusaha untuk berbuat baik kepada mereka sekuat kemampuan. Banyak orang yang tidak pernah disakiti orang lain karena dalam hidupnya tidak pernah bergaul dengan orang lain. Dengan di sakiti, dan hamba-Mu tetap berbuat baik kepada mereka, menyebabkan Engkau akan mengabulkan doa-doa hamba-Mu ini.

Alhamdulillah ya Allah, Engkau memberi kesempatan kepadaku untuk kuliah walau tidak di jurusan pilihan. Banyak orang yang tidak sempat kuliah karena kekurangan biaya. Dengan kuliah tidak sesuai jurusan, semoga hamba-Mu ini akan memiliki lebih dari satu keahlian. Keahlian pertama adalah jurusan ketika kuliah dan keahlian lainnya adalah mempelajari hal-hal yang dulu dicita-citakan.

Sangat banyak hal di dunia ini yang bisa kita syukuri dengan mengucapkan Alhamdulillah. Dengan selalu mengucapkan Alhamdulillah, milyaran peluang dan prestasi akan mengejar-mengejar kita. Sebaliknya, banyak hal di dunia ini yang kita tidak mampu mensyukurinya walau dengan ucapan Alhamdulillah, bahkan kita begitu berat dan enggan mengucapkannya, sehingga milyaran peluang dan prestasi terbirit-birit meninggalkan kita.

Berani hadapi tantangan untuk bersahabat dengan Alhamdulillah?

KORUPSI ITU MEMANG ADA DIMANA-MANA

Januari 17th, 2011 by iriani77

 

Peristiwa diawal tahun yang tidak menyenangkan

 

 

          Januari kelabu. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan peristiwa di awal tahun 2011. Tidak hanya karena harus melewati ultah di rumah sakit karena menemani suami yang sedang sakit, tapi juga harus menerima kenyataan bahwa ternyata di sebuah Rumah Sakit dihuni oleh orang-orang yang Rakus (ck..ck..ck..)

 

Ya, ini adalah sebuah peristiwa diawal tahun yang sungguh sangat amat tidak mengenakan, menyebalkan, bahkan mengecewakan. Masalah ini membuat saya sampai tidak bisa memejamkan mata, mungkin karena rasa tidak percaya dan kecewa yang sudah mencapai stadium IV. Yang jelas, kejadian yang saya alami ini semakin menambah keyakinan saya bahwa KORUPSI itu memang ada dimana-mana, di lembaga apapun, dan bisa dilakukan oleh siapapun. Tidak hanya di lembaga yang “Basah”, seperti pajak,  imigrasi atau bea cukai. Bahkan di sebuah lembaga yang berhubungan dengan kemanusiaan seperti RUMAH SAKIT!.

 

Yaah, daripada saya memendam sendiri perasaan kecewa yang bikin saya jadi  jerawatan dan gatal disana sini (apa hubungannya ya?), lebih baik saya sharing aja deh, begini kronologisnya:

 

  1. Suami saya dirawat inap disebuah Rumah Sakit Swasta terkenal di kota Bogor,  mulai tanggal 8 Januari 2011 sampai dengan tanggal 12 Januari 2011 karena DBD
  2. Selama perawatan, saya  sengaja menghitung jumlah infus yang diberikan kepada suami mulai dari hari pertama masuk sampai mendapat ACC untuk pulang dari dokter,  dan jumlah infus yang diberikan itu sebanyak 8 kantong. Saya sengaja menghitung karena sebelumnya sudah mendapat bocoran  katanya kalau dirawat inap dengan jaminan asuransi atau jaminan perusahaan harus teliti dengan obat-obatan, infus atau jasa apapun yang kita terima karena suka ada mark up didalamnya.
  3. Tanggal 12 Januari 2011, suami saya mendapat ACC dari dokter untuk pulang karena trombositnya sudah naik menjadi 129 ribu (sebelumnya, trombositnya hanya 32 ribu).
  4. Saya memproses biaya perawatan dll di kasir. Karena suami saya menggunakan asuransi kesehatan jadi urusan administrasi berjalan lumayan lama. Kebetulan suami saya dirawat dikelas II yang tidak sesuai dengan tanggungan asuransinya.  Harusnya suami saya dirawat di kelas III, tapi karena kelas III sudah penuh, akhirnya masuk di kelas II. Karena ada selisih biaya (Ekses klaim), kami pun akhirnya membayar terlebih dahulu seluruh biaya yang dikeluarkan  dan kemudian mengajukan klaim untuk penggantian biaya tersebut kepada pihak asuransi.
  5. Saya meminta rincian biaya perawatan untuk melengkapi dokumen-dokumen yang akan saya serahkan untuk reimbust ke pihak asuransi. Dan…. disinilah kekecewaan saya dimulai.

Saat saya mengecek jumlah infus yang diberikan selama perawatan ternyata jumlahnya menjadi 2 kali lipat (MasyaAllah….. sambil geleng-geleng kepala).

Saya masih mengingatnya dengan jelas, suami saya hanya mendapat 8 infusan, tapi di dalam rinciannya ternyata tertera menjadi 16 infusan!!!.

Pada tanggal 8 Januari 2011, tertera dalam rincian suami saya mendapat 4 infusan, bagaimana mungkin? masuk UGD saja pukul 11.15. Sudah jelas-jelas infusan itu hanya habis 1 kantong.

Itu baru infusan yang sudah jelas fisiknya. Entah dengan yang lainnya. Karena dalam rincian itu menggunakan nama-nama istilah dalam dunia kesehatan yang tidak saya mengerti, contohnya IV CATHETER (INSYTE) 22, saya pikir itu adalah kateter, alat untuk membantu keluarnya air seni padahal suami saya kan tidak pakai kateter. Tapi ketika saya tanya ke perawat ternyata bukan itu maksudnya.

 

Akhirnya memang terbukti, bila kita menggunakan jasa asuransi atau jaminan dari perusahan untuk rawat inap, selalu ada penggelembungan biaya di dalamnya. Ini bukan hanya katanya atau kabar burung yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tapi setelah saya mengalami sendiri saya benar-benar semakin yakin bahwa praktek kotor itu memang benar adanya.

Saya memang tidak terlalu dirugikan dengan penggelembungan biaya yang tertera dalam rincian tersebut. Toh, pada akhirnya pihak asuransi akan mengganti biaya perawatan itu. Tapi, hati nurani saya merasa terusik. Bagaimana mungkin disebuah lembaga yang berhubungan dengan Kemanusiaan, ternyata di dalamnya ada orang-orang yang dengan sengaja mencari keuntungan dengan cara yang sangat tidak terpuji.

Menurut saya, bekerja di sebuah RS, entah itu sebagai dokter, perawat, cleaning service, satpam, ataupun dibagian administrasi seperti kasir, itu adalah sebuah pekerjaan mulia. Tapi kalau akhirnya ada kasus penggelembungan biaya perawatan di dalamnya, rasanya mereka tidak lebih hina dengan para koruptor, atau perampok. Apakah hanya karena biaya perawatan  si pasien ditanggung oleh asuransi kemudian bisa seenaknya dilipatgandakan dan dimanfaatkan seperti itu?. Mungkin bagi mereka ini adalah sesuatu yang lumrah dan halal, kali ya?

Sudah jelas, orang-orang yang datang ke rumah sakit itu adalah orang-orang yang sedang dalam keadaan kesulitan dan kesusahan, sudah sakit harus bayar juga, eeeh masih dikorupsi pula. Saya dan suami bukanlah berasal dari keluarga kaya dan mapan dengan penghasilan berjuta-juta.  Kami menyisihkan uang untuk membayar premi asuransi tiap tahun bukan karena kami  kelebihan uang. Tapi karena kami merasa bahwa kesehatan itu adalah penting. Kita bisa sakit dan mendapat musibah kapan saja, tapi kok malah dimanfaatkan begitu ya?. Biarlah kami punya penghasilan kecil dan pas-pasan, yang penting kami mendapatkannya dengan cara yang halal dan sesuai syar’i, tidak merugikan dan tidak menyakitkan orang lain

 

Pantas saja kalau Indonesia menjadi negara paling korup, karena korupsi itu memang ada dimana-mana dan sudah menjalar hingga ke level bawah, dan ada pada semua lembaga, bahkan di lembaga yang katanya menjungjung tinggi rasa kemanusiaan seperti RUMAH SAKIT. Rumah tempat orang-orang yang seharusnya  mendapatkan perawatan, kenyamanan dan  kepercayaan dengan biaya yang wajar dan sesuai. Tapi kok isinya malah orang-orang dengan jiwa rakus dan korup seperti itu.

Jujur saja, rasa kepercayaan saya kepada lembaga-lembaga seperti RS dsb semakin berkurang bahkan  hilang!. Lantas, kalau lembaga yang sangat vital seperti itu saja sudah tidak amanah dan tidak dapat dipercaya, kepada lembaga mana lagi kami harus percaya…???

 

Bogor, 13 januari 2011

04.00 WIB

 

Pedagang Dermawan dan Pedagang Kikir

Oktober 5th, 2010 by iriani77

           Sedang kumat tidak bisa tidur. Mau nulis tapi lagi ngga mood,  padahal di kepala sih sudah banyak banget yang ingin di tulis. Buka FB dan Twitter, bosan. Ternyata, menjelajah dunia maya juga ada bosannya. Akhirnya buka-buka koleksi majalah beberapa tahun yang lalu.  Dan tidak sengaja aku menemukan tulisan yang menurut aku sih, penting dan banyak banget manfaatnya. Sebuah tulisan sarat nasehat yang penting untuk orang seperti aku, yang ngga sengaja mengais rejeki dengan cara berdagang kecil-kecilan di rumah. Mau tahu apa itu?, tak ada salahnya kan, bila aku tulis kembali tulisan ini dan semoga mendapatkan pencerahan dan kebaikan didalamnya bagi siapa saja yang membacanya. Amin…

 

 

Pedagang Dermawaan dan Pedagang Kikir

 

            Abu Riyal, Dinar bin Mitsqal berkata, ”jangan percaya orang yang mengatakan kebanyakan pedagang adalah pendosa. Aku banyak melihat di antara mereka orang yang rajin mengeluarkan shadaqah dan infaq di jalan Allah. Mereka juga memberi makan faqir miskin.”

 

            Aku mengatakan, ”Wahai Abu Riyal, kenapa para pedagang membangun rumah yang ia tidak tinggal di sana? Menyimpan uang dan tidak mau menggunakannya? Kenapa mereka sangat tidak tawakkal dengan Tuhan mereka? Abu Riyal menjawab, ”Itu menyalahgunakan kenikmatan, kemubadziran dan keburukan. Siapa yang melakukannya, ia terancam bahaya. Seperti bunyi sebuah syair: ”Siapa yang waktunya digunakan menghimpun apa yang dimilikinya, karena takut miskin, Sesungguhnya dialah yang miskin.”

 

            Aku katakan, ”Bicaralah kepada kami tentang para pedagang yang shalih, orang-orang kaya yang menjadi muflihun (pemenang).” Ia menjawab, ”Cukup bagimu Utsman bin Affan. Ia ridha bila hartanya untuk Ar Rahman, membuat duka syaithan, membeli surga-surga, membekali pasukan untuk perang tabuk, dan mempunyai banyak sikap dan kesungguhan besar di jalan Allah SWT.”

 

            ”Jangan lupa dengan Abdurahman bin Auf. Yang menghimpun padanya sikap berharap dan takut kepada Allah swt. Ia didatangi kafilah dagang dari Syam membawa makanan. Ia bagikan seluruh makanan itu untuk orang-orang yatim. Dengan itu, ia ingin menebus surga daarus salaam.”

 

            Kami katakan, ”Ceritakan pada kami kisah pedagang yang pendosa, Umayyah bin Khalaf yang Allah jadikan hartanya bangkrut.” Ia menjawab, ”Cukup engkau melihat ayat dalam Al Qur’an, yang artinya, ”Kecelakaan besarlah bagi setiap pengumpat dan pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira hartanya itu dapat mengekalkannya.”

 

            ”Apakah pedagang yang merugi mempunyai tanda-tanda dan ciri-ciri?” tanyaku. ”Jika engkau melihatnya makan sendirian, tidak suka menolong, tidak menerima dikritik, marah jika ada orang yang duduk di dekatnya,” jawab Abu Riyal. Aku katakan, ”Kenapa sebagian pedagang menderita sakit tekanan darah tinggi dan gula darah?” Ia menjawab, ”Itu karena mereka setiap waktu berfikir, tapi tidak bersyukur dan tidak berdzikir. Hati mereka berkarat dan pikirannya bernoda.”

           

            Penyakit pedagang : miskin darah, banyak resah, sering gelisah. Miskin darah karena kurang makan disebabkan sibuk yang melalaikannya dari makan pagi dan makan siang, atau makan malam. Banyak resah, karena pikirannya selalu sibuk dengan dagangan, tergantung dengan check, selalu memikirkan bangunan, juga masalah eksport import. Banyak gelisah, karena ia selalu terobsesi untuk mendapat lebih, selalu teringat anak cucunya, maka kebahagiaan meninggalkannya, dan menjadikannya sibuk meninggalakan ibadah.

 

            Tema ilmu yang paling disukai oleh pedagang yang kikir adalah bab anjuran untuk ekonomis. Dan tema ilmu yang paling berat baginya adalah tema anjuran untuk memberi dan menjadi dermawan. Jangan lupa perkataan, ”Telah pergi orang-orang berharta membawa pahala.” Mereka itu adalah para penderma yang mendapat kemuliaan dan usahanya akan disyukuri.

 

            Pedagang yang tak merugi. Mereka,  orang-orang yang membangun mesjid-mesjid untuk orang yang ruku dan sujud. Mereka memberi makan fakir dan miskin dan membantu orang yang membutuhkan. Mereka mengeluarkan harta dan makanan serta menanggung kebutuhan anak-anak yatim. Maka mereka berarti mengumpulkan kebaikan demi kebaikan setiap saat. Ingatlah hadist Rasulullah saw yang menyebutkan, ”Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang.” Dua kelompok orang itu adalah orang yang berharta dan menginfaqkan hartanya di jalan Allah, dan orang berilmu dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

 

            Aku katakan, ”Apa  sebenarnya penghasilan yang paling baik?” Ia menjawab, ”Penghasilan yang paling baik adalah bermuamalah dengan Allah swt yang Maha Memiliki Karunia. Yang Maha Memberi Rizki. Yang tidak pernah menyia-nyiakan amal orang yang beramal. Yang Maha Berbuat Baik bagi yang melakukan kebaikan. Jika engkau melihat orang yang menimbun hartanya di bank, memelihara harta kekayaan mereka dengan surat-surat berharga, dan mengelilingi kebun-kebunnya dengan jaring. Maka, hendaknya engkau menimbun kebaikanmu di bank Ar Rahman, memelihara amal-amal shalihmu dari syaithan, dan mengelilingi  niatmu dari kejahatan dan permusuhan.

 

            ”Ketahuilah, berdagang mempunyai adab dan etikanya sendiri. Para ulama telah menyebutkannya beberapa, dan aku akan menyebutkannya satu per satu. Antara lain, kejujuran dalam bicara, lemah lembut dan kasih sayang pada sesama. Antara lain,  bangun pagi, karena burungpun bergerak di waktu pagi dan mendapatkan hasil terhadap usahanya, memperoleh apa yang dijatahkan untuknya dari Allah yang Maha Ghafuur dan Maha Syakuur. Antara lain, bersih dari riba, amanah dan tidak khianat, menunaikan zakatnya, membantu serta menolong yang membutuhkan dengan shadaqah dan pinjaman. Itu semua akan mendapatkan gantinya di hari pembalasan. Juga, sikap memuliakan tamu, menjaga mendirikan shalat di awal waktu, ikhlash niat dalam shadaqah. Siapapun yang melakukan ini, akan mendapat balasan dari Allah swt. Orang seperti inilah yang disebut orang berharta yang pergi membawa pahala.”

 

            ”Aku mengenal seorang pedagang yang begitu baik. Kebaikannya menaungi banyak orang. Dalam setiap kesempatan beramal sosial, ia selalu termasuk orang yang banyak berderma. Ia juga orang yang memelihara diri dari keburukan dan dosa. Ketika meninggal, orang merasa sangat kehilangan. Ia menyisakan duka di hati banyak orang.

 

            ”Aku juga mengenal seorang pedagang yang kikir. Usianya panjang. Tapi ia terhalang dari hartanya. Ia telah pergi dan meninggalkan harta bendanya dengan tercela. Ia tidak bisa memanfaatkan hartanya di dunianya. Tapi ia tidak mempunyai pijakan di akhiratnya. Ia mati terasingkan. Hartanya bahkan tersita sampai orang-orang bershadaqah membelikan kafan untuknya.” Na’udzubillah…..

         Semoga aku dan keluargaku terhindar dari sifat-sifat seorang pedagang yang merugi.

 

 

 

           

PELABUHAN TERAKHIR UNTUK MAMA

Agustus 19th, 2010 by iriani77

PELABUHAN TERAKHIR UNTUK MAMA

 

 

 

Buatku mama adalah sosok wanita perkasa, kuat, hebat dan tangguh. Perjalanan hidupnya yang penuh liku dan airmata, tidak pernah membuat mama hadir menjadi sosok yang rapuh, lemah  dan putus asa. Sebaliknya, semakin berat dan sulitnya cobaan yang dihadapi, mama selalu menghadapinya dengan sikap optimis dan percaya diri yang tinggi.

 

Mama yang pemaaf. Mama yang tak pernah mau menyusahkan anak-anaknya. Mama yang selalu telaten mengurus cucu-cucunya dan selalu ringan tangan membantu anak-anaknya. Mama yang selalu menghiasi menit demi menit dalam hidupnya dengan beristighfar, karena mama selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling banyak melakukan kesalahan. Mama yanag selalu ingin memberi kepada anak-anaknya walaupun anak-anaknya sendiri tak pernah memberi lebih. Mama yang selalu semangat untuk belajar ilmu agama dan menjaga waktu-waktu beribadahnya dengan baik. Dan mama yang tak pernah berhenti mendoakan anak-anaknya diujung malam nan sunyi dengan tetesan air mata penuh cinta dan keikhlasan. Padahal aku tahu, mama pernah terluka oleh sikap anak-anaknya. Aku dan adik-adikku sering  menyalahkan mama atas keputusan-keputusannya yang kontroversi dan bertentangan dengan keinginan anak-anaknya. Aku yang tak pernah ada disisinya disaat cobaan berat sedang menghimpitnya. Tapi mama tetaplah mama, seorang wanita dengan hati yang penuh maaf dan ketulusan.

 

Hubunganku dengan mama awalnya memang berjalan tidak harmonis, cukup mengalami pasang surut seperti air laut yang kadang pasang dan akhirnya kembali surut. Bukan tanpa alasan kenapa hubungan ibu dan anak ini terbangun seperti pasangsurutnya air laut. Semua berawal saat mama mengungkapkan keputusannya untuk berpisah dari papa. Sebelum memutuskan untuk berpisah, sebelumnya memang orangtuaku sudah tidak tinggal bersama karena satu dan lain hal. Tapi, keputusan untuk benar-benar berpisah sungguh membuat aku shock, sedih, bingung entah harus bersikap apa. Sungguh itu adalah sebuah keputusan yang tidak bisa diterima oleh akal pikiranku sebagai seorang Anak Baru Gede. Tak ada yang menginginkan sebuah perpisahan atau perceraian menimpa  perjalanan kehidupan seorang anak manusia. Dan aku yakin tak ada satu anak manusia dibelahan bumi mana pun yang menginginkan ayah bundanya berpisah. Apalagi bila kemudian perpisahan itu ternyata terjadi tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Begitu pun dengan aku.  Ada beban moral yang begitu berat yang aku rasakan saat itu. Ada perasaan malu, minder, putus asa, dan kemarahan yang mencengkeram begitu kuat dalam batinku. Saat itu rasanya sulit sekali menerima kenyataan yang ada.

 

Aku teramat sangat menentang perpisahan  itu. Aku tidak menginginkan ada kata-kata ”CERAI” menghiasi perjalanan hidup keluarga kami. Tapi sekuat apapun aku menentang keputusannya, ternyata tidak mengoyahkan keinginan mama untuk tetap berpisah dengan papa. Keputusan itu sudah begitu bulat diputusakannya, tanpa menghiraukan perasaan anak-anaknya, termasuk aku. Saat itu aku merasa bahwa keputusan mama untuk berpisah sangat tidak adil, egois, karena hanya memikirkan perasaannya sendiri, tanpa memperdulikan perasaanku dan kedua adikku yang masih kecil.  Saat itu aku melihat masalah ini dari sudut pandang seorang anak yang mungkin memang masih polos, tidak tahu problematik sesungguhnya dalam kehidupan berumahtangga.  Jadi rasanya keputusan untuk berpisah  adalah keputusan yang salah dan tidak beralasan.  Apalagi hubungan orangtua yang aku lihat selama kebersamaan hampir 20 tahun itu berjalan dengan baik, tenang dan menyenangkan. Memang, sejak  SMA dan bekerja aku tidak tinggal dengan mereka. Aku numpang di rumah salah satu keluarga papaku. Jadi, aku mungkin memang tidak terlalu memperhatikan dan menyadari permasalahan yang sesungguhnya terjadi antara mama dan papa. Hingga akhirnya perpisahan itu terjadi.

 

Luka hati dan kecewa ini belumlah kering. Tapi apa mau dikata, kata-kata berpisah itu akhirnya keluar lagi dari mulut mama. Tadinya aku berharap, perpisahan antara mama dan papa beberapa tahun yang lalu adalah perpisahan yang pertama dan terakhir yang akan dialami dalam kehidupan mama. Tapi apa mau dikata, rumahtangga yang coba dibangun kembali setelah berpisah dengan papa akhirnya tidak dapat bertahan lebih lama. Setiap kali aku mendengar kata-kata berpisah, jantung ini seperti berhenti berdenyut, rasanya jiwa ini lepas dari raganya dan  kaki serasa tak berpijak pada bumi.

Tapi akhirnya seiring berjalannya waktu,  aku jadi semakin akrab dan tidak lagi merasa asing dengan sebuah kata perpisahan. Karena beberapa tahun kemudian, kenyataan pahit berpisah akhirnya kembali mewarnai perjalanan kehidupannya. Mama, oh mama, ada apa denganmu…..

 

Tidak mudah untuk bisa menerima ini semua. Dan butuh waktu lama buatku untuk memahami apa yang sesungguh terjadi pada diri mama. Aku amat menyesalkan apa sudah terjadi padanya. Aku sedih, bingung, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aku merasa tidak berarti apa-apa. Sebagai seorang anak pertama dalam keluarga, aku memang merasa tidak banyak berperan, apalagi disaat-saat mama dalam kondisi tertekan dan banyak masalah. Selama ini  aku lebih banyak menyalahkan mama atas semua peristiwa yang dialaminya. Aku menganggap mama ceroboh, tidak sabaran, dan tidak bisa mengambil pelajaran dari  kegagalan demi kegagalan yang pernah dialaminya.  Kami memang jarang bertemu dan jarang berkomunikasi dari hati ke hati. Sejak perpisahan dengan papa, aku memang merasa ada jarak dengan mama. Pola pikir dan perbedaan pandangan membuat aku tidak merasa nyaman hingga aku memang memutuskan untuk tidak tinggal dengan mama.

 

Hingga akhirnya,  setelah mama berpisah untuk yang kesekian kali, kami punya kesempatan untuk lebih dekat. Saya senang dan bahagia mama mau ikut dan tinggal denganku. Untuk perpisahan kali ini, aku lebih banyak diam dalam menyikapinya. Aku tidak banyak bertanya dan tidak lagi bersikap menyalahkan keputusan yang telah mama buat. Aku berusaha untuk lebih banyak menjadi pendengar yang baik. Kebersamaan dengan mama membuat aku bisa menemukan sisi lain dari sosok mama yang sesungguhnya. Aku dapat merasakan beban berat yang ada didadanya. Aku dapat merasakan lelahnya perjalanan hidup yang telah Ia lewati selama ini. Tapi sungguh aku takjub, dalam setiap obrolan dengannya, aku selalu melihat semangat dan rasa optimis yang begitu tinggi. Ada keyakinan yang begitu besar, bahwa suatu hari nanti mama akan mendapatkan kehidupan yang bahagia. Tidak ada rasa trauma dan takut pada kegagalan. Mama selalau bilang, mama juga tidak menginginkan perpisahan  demi perpisahan itu terjadi. Mama selalu bilang, bahwa wanita manapun ketika memutuskan untuk menikah pasti selalu berharap bahwa itu akan menjadi pernikahan terakhirnya. Tapi kadang hidup berjalan tak seperti yang diharapkan. Ada Takdir yang tersurat demikian kuat. Hingga tak ada satu manusia manapun bisa lari dan menolak setiap takdir dan garis hidup yang telah Allah tentukan.   

 

Mamaku sayang, mamaku malang, aku baru menyadari, dibalik kekurangan dan kelemahan mama, ternyata beliau memiliki kelebihan yang luar biasa hebat. Kekuatan, dan ketangguhannya dalam menghadapi kerasnya hidup  membuat mama menjelma menjadi sosok yang tak mudah putus asa. Mama selalu optimis dan selalu berprasangka baik atas ujian dan cobaan yang Allah berikan padanya. Dan sekarang aku baru bisa memahami akan semua keputusan yang telah mama pilih dulu. Aku baru mamahami dan meyadarinya setelah aku menikah dan merasakan lika-liku hidup berumahtangga. Setidak-tidaknya aku  jadi tahu alasan apa saja yang akhirnya membuat seseorang  memutuskan untuk berpisah. Sungguh itu memang bukan hal yang mudah. Dan hanya orang-orang yang kuat dan tangguh saja yang bisa menjalani sebuah komitmen yang telah dibangun atas nama Allah, ditengah perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Memang perceraian adalah sesuatu hal yang dibenci Allah, tapi halal.  Dan aku harus berlapang dada menerima suratan takdir yang telah digariskan-Nya untuk mama.

 

Sepertinya doa-doa yang selalu mama panjatkan dikeheningan malam, dan sikap  optimisnya akan kebahagian yang akan diraih terjawab sudah. Seorang laki-laki kembali hadir dalam kehidupan mama. Aku bisa merasakan keyakinan itu. Laki-laki ini sepertinya memang berbeda dengan pilihan mama sebelumnya, dimana mereka tidak pernah datang memperkenalkan diri apalagi meminta ijin kepada anak-anaknya. Laki-laki ini  datang menemuiku dan mengungkapkan maksud dan tujuannya. Ada kesungguhan dan ketulusan disana.

 

Dan akhirnya aku harus rela melepas mama untuk hidup bersamanya. Diiringi doa terbaik yang aku panjatkan untuk kebahagian mama. Padahal aku merasa belum cukup merawat dan membahagiakan mama. Tapi mama telah menentukan pilihan untuk kebahagiannya.  Ah mama, mama yang tak ingin menjadi beban anak-anaknya. Sekarang mama tinggal disebuah kota kecil. Kota dimana dulu aku dilahirkan dan melalui masa kecil yang membahagian bersama mama dan papa. Tapi kini mama kembali ke kota itu dengan sosok yang lain. Sekarang mereka sedang menata kembali romansa kehidupan baru dengan optimisme dan keyakinan yang kuat. Aku titipkan mama dan hidupnya pada laki-laki itu. Aku meminta kepadanya untuk bisa menerima mama apa adanya. Aku memintanya untuk berjanji untuk selalu menjaga dan membahagiakan mama.    

 

Di setiap sujudku, kumohon kepada Sang Pencipta dengan  sepenuh hati dan segenap  jiwa dan raga, ini adalah pelabuhan terakhir untuk mama, setelah lelah mengarungi samudera nan luas dalam badai dan gelombang tanpa nakhoda.  Kebahagian itu sekarang memang tampak nyata, mungkinkah ini jawaban atas doa-doa yang juga selalu kami panjatkan untuk kebahagian mama?.

Semoga…..

I Love U mom now and 4ever.

Catatan hati ananda

LIONEL ANDRES MESSI

Mei 22nd, 2010 by iriani77

Menjelang Piala Champions

  

Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk ukuran orang-orang Eropa pada umumnya, tingginya hanya 169 cm saja. Usianya pun masih sangat muda,  pria asal Argentina ini lahir 24 Juni 1987, 22 tahun yang lalu. Tapi prestasinya dalam persepakbolaan dunia, boleh jadi tidak kalah dahsyatnya dengan nama sekelas Diego Maradona. Bagaimana tidak, saat ini saja kalau  ditanya siapakah atlit bola mancanegara yang  sedang menjadi sorotan dan buah bibir tentu dialah orangnya, Lionel Andres Messi.

 

Why…?

 

Apalagi  kalau bukan karena gol-gol indahnya yang telah dia ciptakan disepanjang kompetisi La Liga, juga di ajang piala Champion.. Tak tanggung-tanggung, Messi pernah berhasil menyarangkan 4 gol ke gawang  Arsenal dalam pertandingan piala Champion beberapa waktu yang lalu. Wooww, rruaarr… biassaaa…!. Tapi sayang sekali ya, walau akhirnya Messi tidak lolos di Final Champions ini.

 

Saya tidak akan mengomentari lebih jauh tentang tehnik permainan cantiknya Messi, karena saya bukan pengamat bola apalagi pelatih bola. Saya sangat-sangat tidak kompeten dibidang persepakbolaan. Kecuali  dalam hal mengamati para pemain sepakbola yang guanteng-guanteng, hehehehe… uuppsh!!!, salah ya??.  Maaf ya  abi, jangan marah, just kidding, you are still become the handsome man, and the only  one.

 

Kenapa saya menulis tentang Messi?, yang  ingin saya tulis di sini  bukan tentang tehnik bermainnya Messi. Yang ingin saya tulis adalah sisi lain yang dimiliki oleh seorang pemain bola, seperti Messi, yaitu, kenapa Messi begitu fenomenal?, kenapa Messi memiliki kemampuan luar biasa hingga mampu  menciptakan sebuah gol yang indah?. Rasanya semua orangpun akan sepakat untuk mengatakan bahwa Messi dapat melakukan itu semua karena ada talenta atau bakat  serta kecerdasan luar biasa yang mengalir dalam tubuhnya.

 

Ya…!!, menurut saya semua kemampuan yang dimiliki Messi, adalah karena sebuah anugrah yang telah Allah SWT berikan  kepada mahluk hidupnya, yang bernama Messi. Bakat dan kecerdasan  telah Allah SWT anugrahkan kepada hamba-hamba-Nya. Tidak pandang bulunya Allah SWT dalam menganugrahkan bakat atau kecerdasan itu, adalah sebagai bukti Maha Luas dan Maha Besarnya kasih sayang Allah SWT pada setiap mahluk ciptaan-Nya.

Contoh nyatanya adalah ada pada sosok Lionel Messi ini. Seorang pemain sepak bola yang sekarang memperkuat Barcelona, Spanyol. Ketangkasannya dalam bermain bola, menunjukkan bahwa tidak hanya berbakat besar untuk menjadi pemain sepak bola, tapi dia juga memiliki apa yang namanya kecerdasan kinestetik/fisik atau body smart dalam dirinya.

 

Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol gerakannya, dapat mengolah tubuh secara ahli. Mengekspresikan gagasan dan emosi melalui gerakan.

Orang-orang yang memiliki kecerdasan kinestetik cepat mempelajari dan menguasai kegiatan-kegiatan yang melibatkan fisik, baik motorik kasar maupun halus.

 

Lincahnya ayunan kaki Messy, luwesnya tubuh messi yang meliuk-liuk menghindari hadangan lawan dan tajamnya indera untuk menyarangkan bola di gawang lawan, menunjukkan bahwa Lionel Messy memang memiliki  kecerdasan kinestetik yang luar biasa.

 

Istilah kecerdasan kinestetik atau body smart, adalah salah satu dari delapan kecerdasan dari konsep Multiple Inttelligences  atau kecerdasan majemuk yang diperkenalkan oleh Howard Gardner.  Menurut Gardner definisi cerdas adalah “kemampuan memecahkan masalah atau kemampuan berkarya menghasilkan sesuatu yang berharga untuk lingkungan sosial, budaya atau lingkungannya”.

 

Apakah setiap manusia memiliki kecerdasan ini?, mungkin memang tidak semua manusia memiliki  kecerdasaan kinestetik ini, tapi, Allah SWT tentunya menganugrahkan bakat dan kecerdasan lain pada diri kita.  Bayangkan, bila semua orang memiliki bakat, minat dan kecerdasan yang sama seperti Lionel Messi, mungkin dunia ini akan penuh dengan para pemain bola. Memang sih, menjadi pemain profesional seperti Messi, tentu akan membuat kantong kita menjadi tebal, bahkan mungkin kita akan punya simpanan yang lebih besar dari yang dimiliki Mr. Gayus, hehehe….. eeeeeh kok jadi melenceng ke masalah itu sih…..

 

Setiap manusia mempunyai bakat, cara belajar, kamampuan kognitif  yang berbeda-beda, dan kemampuan masing-masing individu tergantung pada latar belakang sosial dan budaya dimana mereka dibesarkan (teori Bronfenbrenner). Dan  mungkin itulah kenapa Messi bisa mencapai sukses seperti sekarang. Mungkin selain karena bakat dan kecerdasan yang dimilikinya, latar belakang dimana dia berada dan dibesarkan pun sangat mendukung untuk bisa menjadi seperti sekarang. Selain itu, tentu saja karena latihan, disiplin dan kerja keras yang telah dilakukannya selama ini. 

 

Bila di umpanakan Messy kecil dulu adalah sebuah bibit, mungkin dia adalah termasuk bibit unggul, yang  di tempatkan dalam sebuah pot yang tepat, kemudian di rawat dan diberi pupuk terbaik, hingga akhirnya, dia tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pohon yang tidak hanya produktif dan menguntungkan, tapi juga sangat membanggakan bagi pemiliknya.  

 

Maka, sungguh amat meruginya  dia, Lionel Andres Messi, bila tidak mensyukuri bakat dan kecerdasan yang telah Allah SWT anugrahkan kepadanya….

 

Mmmhmmm…., apakah akan lahir Lionel Messi made in Indonesia?

 

Semoga….

 

Semangat bangkit Indonesia,

Mei 2010

Wajah penonton sepak bola kita, cermin karakter bangsa yang lemah?

April 29th, 2010 by iriani77

 

Kalau di tanya olah raga apa sih yang paling merakyat di bumi kita  Indonesia ini?. Sepertinya sepak bola adalah jawaban yang tepat. Setidak-tidaknya itu menurut pendapat saya lho!.

 

Kenapa?

 

Karena siapapun boleh memainkannya dan dimanapun bisa dimainkannya. Mau yang di kampung, yang di kota-kota besar, di gang-gang sempit, di jalanan, di ladang, di sawah, pokoknya kamu bisa memainkan si bola  bundar itu di tempat yang kamu suka dan kamu punya.  Dan ngga peduli siapa kamu, mau pedagang, mau anak sekolahan, mau selebritis, mau pengangguran, pokoknya siapapun kamu, ngga akan ada yang berani melarang kamu main sepak bola. Kecuali, ini kecuali nih, kalau kamu main bolanya di pekarangan orang tanpa ijin, apalagi ditambah dengan mecahin kaca jendela tetangga karena bolanya salah sasaran, hehehe…

 

Tapi,  apa karena saking merakyatnya, kok, wajah persepakbolaan kita makin terlihat kampungan ya? Eeehhh,  maaf–maaf kalau ada yang tersinggung!

Maksud saya,yang kampungan itu bukan permainannya, atau pemainnya (kadang-kadang sih), tapi, itu tuh, para penonton yang budiman…

 

Duuhhh!!!!, cape deh kalau melihat wajah-wajah penonton sepak bola kita. Apalagi kalau penonton  yang tadinya tertib jadi ribut, yang tadinya tenang jadi gamang, yang tadinya akur jadi tawuran, terus saling jotos, saling tinju, akhirnya ada korban. Ternyata itu belum cukup, masih ditambah dengan merusak fasilitas umum, membakar mobil dan banyak lagi yang dirusak, ampuunnn…!!!

Duuhhh!,  maunya penonton ini apa yaa?. Nonton gratis kah?, klub yang didukungnya menang terus kah?, ngga ngerti deh!.

 

Kadang saya suka iri, kalau sedang menonton pertandingan Liga Inggris, atau pertandingan sepak bola luar negeri lainnya, kaya Piala Champions gitu. Bayangkan, jarak tempat duduk penonton dengan lapangan itu begitu dekat, hanya dibatasi oleh papan iklan  saja. Tidak ada pagar besi tinggi yang membatasi mereka seperti stadion-stadion yang ada di kita.   Tapi mereka bisa duduk dengan rapi dan tertib. Sepertinya mereka benar-benar menikmati pertandingan itu seperti sedang menonton sebuah pertunjukan seni atau konser. Mereka begitu menikmati permainan para pemain yang begitu cantik. Mereka benar-benar menikmati moment-moment pemain menggiring, mengoper, dan menendang bahkan merebut bola, dimana ini  merupakan proses dari terciptanya sebuah gol yang amat mereka nantikan. Dan mereka menikmati proses tersebut hingga sepertinya sayang bila dilewatkan atau diusik dengan sikap-sikap yang akan mengganggu kenikmatan saat menyaksikan pertandingan ini. Dan lihatlah, saat gol tercipta, mereka akan sontak berdiri memberikan standing aplaus, dan setalah itu mereka akan duduk kembali dengan tertib, hebat!!

Yaa, walaupun kejadian anarkis juga pernah mewarnai  pertandingan di beberapa negara, tapi setidaknya yang saya tonton di televisi sejauh ini semuanya begitu asyik untuk disaksikan.

 

Apakah sikap anarkis dan kampungan yang ditunjukkan oleh para penonton sepak bola kita, adalah cerminan dari karakter bangsa kita yang lemah?

Bila iya, apakah karakter para penonton sepak bola kita memang sudah sebegitu sangat lemahnya?

 

Entahlah…!

 

Padahal, katanya negara kita masih memegang budaya ketimuran, dimana sopan santun,  etika dan moral serta sportifitas dalam olahraga sangat dijunjung tinggi?

Tapi nyatanya, sikap-sikap yang dibanggakan itu sama sekali tidak nampak saat kita menonton pertandingan sepak bola, aneh!

 

Menurut Aristoteles, sebuah masyarakat yang budayanya tidak memperhatikan pentingnya pendidikan tentang “good habits” kebiasaan baik, akan menjadi masyarakat yang terbiasa dengan kebiasaan buruk.

 

Sedangkan menurut Jhon Luther ; “Karakter yang baik, lebih baik dipuji daripada bakat yang luar biasa. Hampir semua bakat adalah anugrah. Karakter yang baik, sebaliknya, tidak dianugrahkan kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit, dengan pikiran, pilihan, keberanian dan usaha keras”.

 

Dalam tulisannya, Ratna Megawangi menyatakan, “Bahwa untuk menjadi seseorang yang berkarakter diperlukan usaha yang serius dan terus menerus. Menjadi manusia yang berahlak mulia atau yang berkarakter tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi, hasil itu memerlukan proses yang panjang  melalui pengasuhan sejak kecil, serta latihan secara terus menerus.  Karakter ibarat otot. Otot-otot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih. Seperti seorang binaragawan (body builder) yang terus menerus berlatih untuk membentuk ototnya. Otot-otot karakter juga kan terbentuk melalui praktik-praktik latihan, yang akhirnya akan menjadi kebiasan (habit)”

 

Jadi bagaimana agar karakter yang kuat dan terpuji itu bisa tertanam dalam diri kita?. Tentu saja kita harus melatihya sejak dini agar karakter itu menjadi sebuah good habits dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sama saja seperti atlit-atlit sepak bola kita. Mereka berlatih sejak dini dan terus berlatih hingga saat ini, untuk mempertajam kemampuan bermainnya sehingga akan menampilkan permainan terbaiknya.

Mengapa perbuatan baik ini harus ditanamkan sejak dini?, lebih tepatnya sejak kanak-kanak. Karena semakin dewasa usia, semakin sulit membentuk otot ahlak mulia.

 

Seperti yang diungkapkan oleh Ibn Jazaar Al-Qairawani, “Sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak bukan berasal dari fitrah. Tetapi timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orangtua dan para pendidiknya. Semakin dewasa, semakin sulit meninggalkan sifat-sifat tersebut. Banyak orang dewasa yang menyadari sifat buruknya, tetapi tidak mampu mengubahnya, karena sifat tersebut sudah mengakar di dalam dirinya, dan menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan”.

 

Jadi, bila selama ini kita telah menunjukkan bad habits selama duduk  menjadi penonton sepak bola, bisa jadi ini menunjukkan kendur dan lemahnya otot-otot karakter atau ahlak mulia dalam jiwa raga kita. Waallahu’alam…..

 

Semoga belum terlambat untuk berlatih dan memperbaikinya, sehingga kita pun bisa lebih beradab saat kita duduk menjadi penonton sebuah pertandingan.  Kan asyik tuh, pemain bermain cantik dan penonton pun duduk dengan manisnya, semoga…..

 

 

April 2010

 

 

 

sebuah Impian dan Inspirasi

Maret 30th, 2010 by iriani77

Setiap orang pasti punya impian dalam hidupnya. Dan impian itu hadir bisa jadi karena terinspirasi oleh sesuatu yang ada disekitarnya.

 

Begitupun dengan saya. Banyak impian-impian lahir karena terinspirasi oleh orang-orang yang hadir disekitar kehidupan saya.  Begitu banyaknya orang-orang yang menjadi inspirasi itu, sehingga saya ingin sekali menuliskannya dalam catatan saya ini. Tulisan ini saya persembahkan kepada mereka sebagai ungkapan rasa terima kasih. Karena tanpa mereka sadari, sesungguhnya saya telah belajar banyak dari mereka tentang hidup ini. Tentang bagaimana saya memandang kehidupan ini. Dan karena banyaknya, saya tidak mungkin menuliskannya sekaligus. Saya akan mencatatkannya dalam beberapa bagian.

 

Catatan saya di bagian pertama ini sangat berarti dan berkesan, setidak-tidaknya buat saya pribadi. 

Kenapa?

Karena disinilah awal mulanya saya  benar-benar belajar, ditempa dan dididik menjadi orang yang harus BISA mengerjakan sesuatu, padahal secara mental dan skill saya sebenarnya belum siap.

 

Oktober 1994,

Dulu namanya PUSLITBANGTRI, kalau sekarang sih, kalau ngga salah, sudah di ganti menjadi PUSLITBUN. Sebuah instansi pemerintah di bawah Departemen Pertanian waktu itu. Di sanalah saya pertama kali mengenal dunia kerja, waktu itu saya hanya nganggur kira2 3 bulan saja setelah lulus dari sekolah. Jangan ditanya kok saya bisa kerja disana, padahal saya kan cuma lulusan SMEA. Dulu kan belum jamannya reformasi jadi KKN itu masih sangat merajarela, walaupun sekarang juga tetep masih ada, jadi mungkin sebenarnya ga ada bedanya ya…??.

 

Bangunan tua dimana saya pertama kali bekerja itu sekarang sudah tidak ada. Sekarang sudah berganti dengan kantor baru dengan bangunan baru pula. Tapi ada yang tidak berubah sampai saat ini. Pohon-pohon besar yang rindang masih berdiri tegar dan kokoh memberi keteduhan kepada siapa saja yang berada di bawahnya.

 

Di sana banyak  sekali kenangan yang tidak mungkin dapat saya lupakan. Mulai dari gedung tua dekat pohon bisbul sampai kekantor baru dua lantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor lama.  Dua tempat itu, kantor lama dan kantor baru sama-sama meninggalkan kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan (kaya lagunya slank aja..)

 

Saat itu saya hanyalah  seorang gadis ingusan usia 17 tahun  yang baru lulus dari SMEA (sekarang SMK). Seorang anak yang terpaksa harus bekerja (jujur saja saat itu memang sangat sangat terpaksa harus bekerja), padahal jauh dari lubuk hati yang paling dalam kepengennya sih bisa kuliah, seperti teman2 yang lain. Sampai2 ada perasaan frustasi, kecewa, marah dan bahkan benci banget sama ortu karena mereka sampai tidak mampu menguliahkan anaknya. Apalagi waktu di SMEA dulu, nilai2 saya lumayan tidak mengecewakan karena selalu masuk 3 besar, cie cie cie bukan somse yaa. Tapi sudahlah situasi dan kondisi saat itu memang tidak memungkinkan. Apa mau di kata saat itu rasanya memang tidak ada opsi lain selain bekerja. Padahal jujur saja, secara mental dan skill saya belum siap.

 

Awalnya, saya memang merasa terpaksa buangeeet. Ngga betah, ngga suka, ngga nerima, ngga bisa, ngga…., ngga apa lagi yaaa???

Pokoknya ya bingung aja bagaimana harus bersikap dan menempatkan diri sebagai orang baru di tengah-tengah pegawai yang sudah senior, ditambah lagi saat itu saya ditempatkan di bagian Sub Bidang Rencana Kerja, dimana didalamnya itu terdiri dari orang-orang yang sudah  tidak muda lagi alias sudah pada tua. Cocoknya saya jadi anaknya mereka. Ditambah lagi dengan sifat saya yang ga PDan alias minder, ditambah lagi saya ini anaknya kuper, dan gaptek. Jadi walaupun lulusan SMEA tapi saya ga bisa make komputer.

 

Tapi justru disinilah akhirnya saya belajar. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun berjalan. Dan semuanya diisi dengan belajar-belajar-belajar.

Di tempat inilah, saya punya kesempatan untuk bertemu dan bergaul dengan orang-orang pintar, cerdas dan bertitel. Di ruangan saya saja semuanya bertitel dari S1, S2, sampai S3. Mungkin itulah yang membuat saya sering minder dan ga PD. Saya ini kan Cuma lulusan SMEA boro-boro kuliah trus jadi sarjana. Sertifikat kursus saja ga punya.

Tapi alhamdulilah, walaupun mereka-mereka itu semua sarjana, mereka tidak memperlakukan diskriminasi terhadap saya. Saya diberi kesempatan untuk belajar banyak hal. Mulai dari mengoperasikan komputer mulai dari belajar program WS dan Lotus (jaman itu mah WS dan LOTUS udah top banget), sampai belajar microsoft dan excel dan program lain. Dari  membuat konsep surat sampai belajar membuat pembukuan dan hal2 yang berhubungan dengan  administrasi. Saya juga belajar bagaimana menjadi notulen rapat, dan bagaimana mengetik sebuah hasil penelitian ilmiah. Oh ya, saya juga jadi belajar tentang nama2 latin dari jenis2 tanaman plus cara penulisannya.  Dan yang lebih penting mereka memberi saya kepercayaan dan selalu meyakinkan saya, bahwa saya bisa. Apalagi setelah saya  sudah diberi ruangan sendiri,  meja sendiri, komputer dan mesin tik sendiri,  rasa PD dan minder mulai terkikis walau tak sampai habis, kadang-kadang masih suka bikin saya meringis dan menangis…..

 

Di tempat inilah  gudangnya orang-orang yang telah memberi saya inspirasi. Saya sangat menyadari kekurangan saya adalah, saya tidak bisa dan tidak suka kalau harus tampil di depan banyak orang. Saya merasa  tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Mungkin karena itulah saya jadi punya sifat ngga PD-an dan minder. Ditambah karena saya merasa bukan siapa2 dan ngga bisa apa2. Saya Cuma anak ingusan lulusan SMEA.  

 

Makanya, karena saya merasa punya kekurangan seperti itu dan punya masalah krisis percaya diri, saya jadi sangat suka sekali memperhatikan orang yang sedang berbicara di depan forum atau di sebuah acara2 tertentu yang diadakan di kantor.  Alhamdulillah, atasan saya suka mengajak dan melibatkan saya dalam beberapa kegiatan kantor seperti kegiatan rapat bulanan, seminar, workshop, Raker, atau simposium. Dan kegiatan yang paling berkesan adalah sebuah acara workshop yang dilaksanakan di sebuah hotel  di Bogor. Acara itu diikuti oleh beberapa negara, dari Malaysia, Vietnam, India, Bangladesh, Philipina, Fiji, Solomon dan Vanuatu. Tugas saya Cuma sebagai penjaga buku tamu, dan pembantu umum. Tapi walaupun Cuma sebagai penjaga buku tamu dan pembantu umum, saya sangat bangga bisa terlibat diacara tersebut. Saya bisa duduk satu meja saat makan siang dengan orang-orang seperti mereka. Saya bisa ngobrol dengan mereka walaupun dengan bahasa inggris yang pas-pasan. Dan saat workshop itu berakhir, saya mendapat oleh-oleh dari mereka walaupun hanya berupa makanan dan coklat, tapi saya amat senang menerimanaya.

Mereka bilang, “You are so young”.

He he he, saya memang orang paling muda disana, saat itu usia saya baru 18 tahun. Sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.

 

Pada acara2 seperti itulah,  saya suka ngitip ke dalam ruangan dan mengamati beberapa pakar yang sedang presentasi di depan. Kalau saya amati ada peserta yang gaya bicaranya mengsyikan hingga membuat suasana jadi ngga BT dan ngga bikin peserta ngantuk. Tapi ada juga  yang gaya presentasinya yang malah bikin ngantuk dan ngga menarik untuk diikuti. Ada peserta yang bicaranya ngga fokus, muter2 alias bertele2. Tapi ada juga peserta yang berbicara dengan lugas dan  tegas langsung pada pokok bahasan.  Pokoknya saya senang sekali mengamati para pembicara di depan sana. Sampai2 saya jadi suka berkhayal kalau yang berbicara di depan itu adalah  saya. Saya suka bertanya-tanya dalam hati,  kalau suatu saat saya ada di depan, kapasitas saya sebagai apa ya?,

Apa yang akan saya sampaikan?

Bagaimana saya menyampaikannya?

Gaya siapa yang akan saya tiru?

Wah, pokoknya banyak banget pertanyaan2 seperti itu menjejali kepala saya. Tapi, saat itu pun saya cepat menyadari sepertinya itu adalah sebuah impian yang terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin saya bisa seperti mereka?, saya ini hanya seorang pekerja yang hanya lulusan SMEA, nga punya dasar dan kapabilitas untuk berbicara.

 

Ya,  itu memang hanya sebuah impian. Bahkan ketika kemudian saya memutuskan untuk keluar dari kantor itu setelah saya justru diangkat sebagai honorer,  impian untuk bisa seperti mereka itu masih tetap tersimpan dalam pikiran saya.

 

Ya, setelah diangkat sebagai honorer, saya malah memutuskan keluar. Jujur saja, sebenarnya berat sekali harus meninggalkan “KAMPUS”, yang telah memberi saya pengalaman dan ilmu yang berharga. Kenapa saya menyebut kantor itu sebagai kampus?. Dulu, saya kan pengen banget bisa kuliah. Tapi setelah saya merasakan bekerja di tempat itu,  justru saya merasa kuliah yang sesungguhnya adalah di  sana, di Puslitbangtri. Di sana saya tidak hanya belajar teori tapi juga langsung praktek. Di sana saya bertemu langsung pakar2 yang saya anggap sebagai dosen. Pokoknya, kantor itu telah memberikan saya pengalaman yang tak ternilai harganya. Dan di sanalah  saya menemukan banyak inspirasi.

 

 

Bogor, Maret 2010

 

The unforgettable moments on March

Maret 10th, 2010 by iriani77

Ucapan Baik = Doa ???

 

Katanya, kalau bicara jangan sembarangan alias jangan asal ucap, takut malaikat denger. Kalau yang diucapkannya yang baik-baik sih ga jadi masalah. Tapi kalau yang diucapkannya bukan hal yang baik, gimana?. Trus gimana kalau malaikat mencatatnya dan menjadi kenyataan?. Astagfirullah…. Jangan sampai deh!!. Makanya orangtua tuh suka wanti-wanti kalau ngucap jangan sembarangan,  jangan asal ntar bisa kualat.

 

Anda percaya bahwa ucapan yang baik itu sama dengan doa?. Kalau saya sih percaya buanggeeett……!!. Semua yang keluar dari mulut kita, yang diucapkan dengan baik dan lahir dari ketulusan hati adalah sebuah doa. Dan bila Allah SWT menghendaki, apa yang kita ucapkan dari lisan kita dengan baik, baik itu harapan atau keinginan maka tidak sulit bagi Allah SWT untuk mewujudkannya.

 

Dan saya pernah merasakan keajaiban itu. Berawal dari peristiwa tsunami yang menimpa daerah Aceh  5  tahun yang lalu. Saya yakin Peristiwa itu akan mengiris rasa kemanusian bagi setiap orang yang menyaksikannya. Apalagi  hampir semua stasiun televisi lokal maupun internasional menayangkan peristiwa tersebut secara terus menerus. Dan saya termasuk orang yang tak pernah melewatkan berita seputar tsunami  yang menimpa di Aceh. Jujur saja saat itu  setiap kali melihat tayangan tentang peristiwa itu, dan banyaknya korban yang berjatuhan membuat hati ini ikut berduka. Sampai-sampai air mata ikut menetes tiap kali menyaksikan ganasnya dampak tsunami itu.  Setiap kali melihat pemberitaan tsunami di Aceh, dan meihat begitu antusiasnya semua elemen masyarakat untuk menjadi relawan,  tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya untuk bisa membantu para korban. “Saya ingin jadi relawan, pokoknya, kalau ada kesempatan saya pengen banget bisa ada disana”. Itu adalah sebuah keinginan yang pernah saya ucapkan.

           

Dan keinginan itu memang hanya  sebuah  impian dan angan-angan  saja. Saya  menyimpannya dalam hati sambil berdoa untuk kebaikan dan keselamatan bagi orang-orang di Aceh. Lagian ngga mungkin banget saya bisa kesana, apalagi harus meninggalkan anakku yang masih kecil, dan yang penting saya tidak punya akses untuk menuju kesana. Saya tidak pernah membayangkan bahwa akhirnya, saya bisa pergi kesana, ke Aceh dan melihat langsung dampak tsunami yang memporak-porandakan bumi serambi mekkah dan merenggut ratusan ribu korban itu. Kok bisa…??

 

Kalau di tanya kok bisa ke Aceh? Emang kamu siapa? Trus kamu disana mau ngapain?, wah bingung deh jawabnya. Mungkin hanya satu jawabannya, semua karena Allah. Karena  sebenarnya yang harus berangkat itu adalah teman saya, tapi kerena kedua orangtuanya tidak mengijinkan akhirnya pilihan itu jatuh ke saya, padahal tiket dipesan sudah atas nama teman saya itu. Yang jelas bulan Maret tepatnya tanggal 9 Maret 2005 saya terbang ke Banda Aceh dengan pesawat Garuda. Jujur saja itu pengalaman pertama saya naik pesawat, makanya saya deg-degan banget sempet strees dan takut. Tapi ketika sudah dari H-nya yang ada adalah kepasrahan. 

  Banda Aceh, pasca tsunami Maret 2005

 

Ngapain di Aceh??,  Sebenarnya yang punya kerjaan adalah teman saya dan saya hanya mendampingi beliau untuk menfasilitasi workshop tentang posyandu untuk ibu-ibu pengungsi. Beliau dan saya mewikili sebuah LSM do Bogor.

Dan ini menjadi sebuah  pengalaman pertama saya berbicara di depan banyak orang kurang lebih 40 orang. Alhamdulillah, saya juga jadi punya kesempatan untuk berkunjung ke beberapa kamp pengungsi, dan keliling-keliling kota Banda Aceh. Saat itu suasananya sudah mulai rapi karena sudah 3 bulan pasca tsunami.

 

Apa ya hikmah dari pengalaman ini?. Ternyata Allah itu sangat dekat sekali dengan kita. Saking dekatnya, Allah maha Mengetahui apa yang ada dalam hati setiap manusia. ucapan dalam hati yang datang dengan keikhlasan dan kutulusan ternyata benar-benar bisa menjadi sebuah kenyataan, karena buat Allah semua itu mungkin, semua itu mudah, subhanallah!.

Hikmah lain adalah, jangan pernah berhenti untuk belajar, belajar apapun. Jangan pernah takut untuk bermimpi dan jangan pernah berputus asa untuk dapat meraih dan mewujudkan impian itu karena Allah senantiasa bersama kita, dalam setiap langkah dan helaan nafas-nafas kita…..

 

Terima kasih banyak untuk Yasmina dan  SENTRA ADITUKA Bogor, yang telah memberi kesempatan ini. Sebuah perjalanan yang tak akan pernah dilupakan….

CINTA TANPA SYARAT

Februari 28th, 2010 by iriani77

 

Bisakah kau mencintaiku tanpa syarat?

Sungguh! Aku tak perlu ini dan itu

Aku tak mau apa pun

Aku hanya ingin cinta tak bersyarat

 

Bisakah kau mencintaiku tanpa syarat?

Aku sungguh-sungguh tak mampu

Bersama dalam bejana cinta

Namun penuh belenggu

 

Bisakah kau mencintaiku tanpa syarat?

Seperti Rabb mencintai umat-Nya

Seperti bunda mencintai buah hatinya

Seperti bintang pada gelapnya malam

 

Bisakah kau mencintaiku tanpa syarat?

Kali ini saja

Berikan aku ketulusan

Karena aku layak untuk bahagia

 

Bisakan kau mencintaiku tanpa syarat?

 

 

With love,

 

Bogor, 27 februari 2010-02-27

09.00