Setiap orang pasti punya impian dalam hidupnya. Dan impian itu hadir bisa jadi karena terinspirasi oleh sesuatu yang ada disekitarnya.
Begitupun dengan saya. Banyak impian-impian lahir karena terinspirasi oleh orang-orang yang hadir disekitar kehidupan saya. Begitu banyaknya orang-orang yang menjadi inspirasi itu, sehingga saya ingin sekali menuliskannya dalam catatan saya ini. Tulisan ini saya persembahkan kepada mereka sebagai ungkapan rasa terima kasih. Karena tanpa mereka sadari, sesungguhnya saya telah belajar banyak dari mereka tentang hidup ini. Tentang bagaimana saya memandang kehidupan ini. Dan karena banyaknya, saya tidak mungkin menuliskannya sekaligus. Saya akan mencatatkannya dalam beberapa bagian.
Catatan saya di bagian pertama ini sangat berarti dan berkesan, setidak-tidaknya buat saya pribadi.
Kenapa?
Karena disinilah awal mulanya saya benar-benar belajar, ditempa dan dididik menjadi orang yang harus BISA mengerjakan sesuatu, padahal secara mental dan skill saya sebenarnya belum siap.
Oktober 1994,
Dulu namanya PUSLITBANGTRI, kalau sekarang sih, kalau ngga salah, sudah di ganti menjadi PUSLITBUN. Sebuah instansi pemerintah di bawah Departemen Pertanian waktu itu. Di sanalah saya pertama kali mengenal dunia kerja, waktu itu saya hanya nganggur kira2 3 bulan saja setelah lulus dari sekolah. Jangan ditanya kok saya bisa kerja disana, padahal saya kan cuma lulusan SMEA. Dulu kan belum jamannya reformasi jadi KKN itu masih sangat merajarela, walaupun sekarang juga tetep masih ada, jadi mungkin sebenarnya ga ada bedanya ya…??.
Bangunan tua dimana saya pertama kali bekerja itu sekarang sudah tidak ada. Sekarang sudah berganti dengan kantor baru dengan bangunan baru pula. Tapi ada yang tidak berubah sampai saat ini. Pohon-pohon besar yang rindang masih berdiri tegar dan kokoh memberi keteduhan kepada siapa saja yang berada di bawahnya.
Di sana banyak sekali kenangan yang tidak mungkin dapat saya lupakan. Mulai dari gedung tua dekat pohon bisbul sampai kekantor baru dua lantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor lama. Dua tempat itu, kantor lama dan kantor baru sama-sama meninggalkan kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan (kaya lagunya slank aja..)
Saat itu saya hanyalah seorang gadis ingusan usia 17 tahun yang baru lulus dari SMEA (sekarang SMK). Seorang anak yang terpaksa harus bekerja (jujur saja saat itu memang sangat sangat terpaksa harus bekerja), padahal jauh dari lubuk hati yang paling dalam kepengennya sih bisa kuliah, seperti teman2 yang lain. Sampai2 ada perasaan frustasi, kecewa, marah dan bahkan benci banget sama ortu karena mereka sampai tidak mampu menguliahkan anaknya. Apalagi waktu di SMEA dulu, nilai2 saya lumayan tidak mengecewakan karena selalu masuk 3 besar, cie cie cie bukan somse yaa. Tapi sudahlah situasi dan kondisi saat itu memang tidak memungkinkan. Apa mau di kata saat itu rasanya memang tidak ada opsi lain selain bekerja. Padahal jujur saja, secara mental dan skill saya belum siap.
Awalnya, saya memang merasa terpaksa buangeeet. Ngga betah, ngga suka, ngga nerima, ngga bisa, ngga…., ngga apa lagi yaaa???
Pokoknya ya bingung aja bagaimana harus bersikap dan menempatkan diri sebagai orang baru di tengah-tengah pegawai yang sudah senior, ditambah lagi saat itu saya ditempatkan di bagian Sub Bidang Rencana Kerja, dimana didalamnya itu terdiri dari orang-orang yang sudah tidak muda lagi alias sudah pada tua. Cocoknya saya jadi anaknya mereka. Ditambah lagi dengan sifat saya yang ga PDan alias minder, ditambah lagi saya ini anaknya kuper, dan gaptek. Jadi walaupun lulusan SMEA tapi saya ga bisa make komputer.
Tapi justru disinilah akhirnya saya belajar. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun berjalan. Dan semuanya diisi dengan belajar-belajar-belajar.
Di tempat inilah, saya punya kesempatan untuk bertemu dan bergaul dengan orang-orang pintar, cerdas dan bertitel. Di ruangan saya saja semuanya bertitel dari S1, S2, sampai S3. Mungkin itulah yang membuat saya sering minder dan ga PD. Saya ini kan Cuma lulusan SMEA boro-boro kuliah trus jadi sarjana. Sertifikat kursus saja ga punya.
Tapi alhamdulilah, walaupun mereka-mereka itu semua sarjana, mereka tidak memperlakukan diskriminasi terhadap saya. Saya diberi kesempatan untuk belajar banyak hal. Mulai dari mengoperasikan komputer mulai dari belajar program WS dan Lotus (jaman itu mah WS dan LOTUS udah top banget), sampai belajar microsoft dan excel dan program lain. Dari membuat konsep surat sampai belajar membuat pembukuan dan hal2 yang berhubungan dengan administrasi. Saya juga belajar bagaimana menjadi notulen rapat, dan bagaimana mengetik sebuah hasil penelitian ilmiah. Oh ya, saya juga jadi belajar tentang nama2 latin dari jenis2 tanaman plus cara penulisannya. Dan yang lebih penting mereka memberi saya kepercayaan dan selalu meyakinkan saya, bahwa saya bisa. Apalagi setelah saya sudah diberi ruangan sendiri, meja sendiri, komputer dan mesin tik sendiri, rasa PD dan minder mulai terkikis walau tak sampai habis, kadang-kadang masih suka bikin saya meringis dan menangis…..
Di tempat inilah gudangnya orang-orang yang telah memberi saya inspirasi. Saya sangat menyadari kekurangan saya adalah, saya tidak bisa dan tidak suka kalau harus tampil di depan banyak orang. Saya merasa tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Mungkin karena itulah saya jadi punya sifat ngga PD-an dan minder. Ditambah karena saya merasa bukan siapa2 dan ngga bisa apa2. Saya Cuma anak ingusan lulusan SMEA.
Makanya, karena saya merasa punya kekurangan seperti itu dan punya masalah krisis percaya diri, saya jadi sangat suka sekali memperhatikan orang yang sedang berbicara di depan forum atau di sebuah acara2 tertentu yang diadakan di kantor. Alhamdulillah, atasan saya suka mengajak dan melibatkan saya dalam beberapa kegiatan kantor seperti kegiatan rapat bulanan, seminar, workshop, Raker, atau simposium. Dan kegiatan yang paling berkesan adalah sebuah acara workshop yang dilaksanakan di sebuah hotel di Bogor. Acara itu diikuti oleh beberapa negara, dari Malaysia, Vietnam, India, Bangladesh, Philipina, Fiji, Solomon dan Vanuatu. Tugas saya Cuma sebagai penjaga buku tamu, dan pembantu umum. Tapi walaupun Cuma sebagai penjaga buku tamu dan pembantu umum, saya sangat bangga bisa terlibat diacara tersebut. Saya bisa duduk satu meja saat makan siang dengan orang-orang seperti mereka. Saya bisa ngobrol dengan mereka walaupun dengan bahasa inggris yang pas-pasan. Dan saat workshop itu berakhir, saya mendapat oleh-oleh dari mereka walaupun hanya berupa makanan dan coklat, tapi saya amat senang menerimanaya.
Mereka bilang, “You are so young”.
He he he, saya memang orang paling muda disana, saat itu usia saya baru 18 tahun. Sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.
Pada acara2 seperti itulah, saya suka ngitip ke dalam ruangan dan mengamati beberapa pakar yang sedang presentasi di depan. Kalau saya amati ada peserta yang gaya bicaranya mengsyikan hingga membuat suasana jadi ngga BT dan ngga bikin peserta ngantuk. Tapi ada juga yang gaya presentasinya yang malah bikin ngantuk dan ngga menarik untuk diikuti. Ada peserta yang bicaranya ngga fokus, muter2 alias bertele2. Tapi ada juga peserta yang berbicara dengan lugas dan tegas langsung pada pokok bahasan. Pokoknya saya senang sekali mengamati para pembicara di depan sana. Sampai2 saya jadi suka berkhayal kalau yang berbicara di depan itu adalah saya. Saya suka bertanya-tanya dalam hati, kalau suatu saat saya ada di depan, kapasitas saya sebagai apa ya?,
Apa yang akan saya sampaikan?
Bagaimana saya menyampaikannya?
Gaya siapa yang akan saya tiru?
Wah, pokoknya banyak banget pertanyaan2 seperti itu menjejali kepala saya. Tapi, saat itu pun saya cepat menyadari sepertinya itu adalah sebuah impian yang terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin saya bisa seperti mereka?, saya ini hanya seorang pekerja yang hanya lulusan SMEA, nga punya dasar dan kapabilitas untuk berbicara.
Ya, itu memang hanya sebuah impian. Bahkan ketika kemudian saya memutuskan untuk keluar dari kantor itu setelah saya justru diangkat sebagai honorer, impian untuk bisa seperti mereka itu masih tetap tersimpan dalam pikiran saya.
Ya, setelah diangkat sebagai honorer, saya malah memutuskan keluar. Jujur saja, sebenarnya berat sekali harus meninggalkan “KAMPUS”, yang telah memberi saya pengalaman dan ilmu yang berharga. Kenapa saya menyebut kantor itu sebagai kampus?. Dulu, saya kan pengen banget bisa kuliah. Tapi setelah saya merasakan bekerja di tempat itu, justru saya merasa kuliah yang sesungguhnya adalah di sana, di Puslitbangtri. Di sana saya tidak hanya belajar teori tapi juga langsung praktek. Di sana saya bertemu langsung pakar2 yang saya anggap sebagai dosen. Pokoknya, kantor itu telah memberikan saya pengalaman yang tak ternilai harganya. Dan di sanalah saya menemukan banyak inspirasi.
Bogor, Maret 2010